Artikel Diklat

PERAN MAINSTREAM MEDIA MELAWAN (BERITA) HOAKS

Kamis, 13/07/2017 15:56 Asep Sugiantoro

 

Y. Bambang Triyono, M.Pd.

[Artikel ini pernah dimuat di Majalah Broadcastmagz Edisi Bulan Juni 2017]

Hoax is everywhere around the world, without exception in Indonesia

Memang benar berita bohong itu ada dimana-mana, dan sangat ironis, apabila berita itu disebarkan secara berulang-ulang, akhirnya akan dianggap sebagai suatu kebenaran. Jadi, kebohongan adalah kebenaran. Siapa yang bertanggungjawab mengenai hal itu?

Saya tergelitik untuk mencermati terlebih dahulu mengenai kata hoax, yang oleh para jurnalis televisi dan radio diucapkan secara berbeda-beda. Ada yang mengatakan /hok/ dan /ho?k/. Menurut saya, kalau kata itu adalah kata bahasa Inggris ucapan yang benar seharusnya ‘h??ks’, jadi menggunakan dipthong ‘??’, bukan o karena bahasa Inggris tidak ada vokal ‘o’. Karena kata ‘h??ks’, sudah begitu terbiasa terdengar dan dipakai dalam media-media Indonesia, akhirnya kata itu sekarang sudah terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi V yang juga tersedia secara online atau dalam jaringan/daring (Kompas.com 28/02/2017). Kata hoax itu disesuaikan penulisannya kedalam bahasa Indonesia menjadi hoaks. Dengan demikian ucapannya pun sekarang tidak salah kalau berbunyi hoaks, karena bahasa Indonesia itu fonetik, sementara bahasa Inggris itu non-phonetic. Contohnya ya tadi ‘hoax’ diucapkan ‘h??ks’. So, anda bilang hoaks tidak salah lagi karena itu sudah di bahasa Indonesiakan.

Beredarnya berita bohong atau informasi palsu (hoaks) merupakan salah satu dampak negatif dari kemajuan teknologi informasi. Berita bohong sangat cepat tersebar seiring dengan kemajuan teknologi yang menciptakan dunia maya, sehingga hoaks tersebut sulit dikontrol. Beredarnya hoaks sangat meresahkan rmasyarakat. Kadiv Humas Polri Polri, Irjen. Pol. Drs. Boy Rafli Amar M.H bahkan menyatakan hoaks sebagai penyakit masyarakat baru yang sangat meresahkan. Hoaks termasuk salah satu penyakit sosial masyarakat selain penyakit sosial lain yaitu judi, minuman keras, narkoba, tawuran, kejahatan criminal. (Mata Najwa yang ditayangkan oleh Metro TV dengan tema Virus Dusta, Rabu (22/3).

Istilah hoax, kabar bohong, menurut Lynda Walsh dalam buku "Sins Against Science", merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri, diperkirakan pertama kali muncul pada 1808. Asal kata "hoax" diyakini ada sejak ratusan tahun sebelumnya, yakni "hocus" dari mantra "hocus pocus", frasa yang kerap disebut oleh pesulap, serupa "sim salabim".((ANTARA News)

Penyebaran Hoaks

Pengguna media sosial cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Semakin banyak orang yang memiliki ketertarikan yang sama, semakin cepat hoaks itu menyebar. Apalagi, ketika dalam kelompok orang yang memiliki ketertarikan yang sama tersebut memiliki ‘pemimpin’ yang memiliki pengaruh yang kuat di jejaring sosial, sehingga apa pendapat pemimpin itu akan cepat menyebar. Kecepatan dan sifat media sosial yang mudah untuk dibagikan, shareability berperan dalam penyebaran berita.

Dengan sudut pandang positif, jejaring sosial apabila dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia akan menghasil hal yang positif juga. Namun apabila jejaring sosial digunakan untuk menyebarkan hoaks, ini yang sangat berbahaya karena berpotensi memecah belah keutuhan bangsa. Pelbagai motif dibalik hoaks pun beraneka ragam ada motif bisnis, politik, mencari popularitas bahkan motif untuk mengadu domba masyarakat.

Memang sulit membedakan antara (berita) hoaks dan fakta dan kita membutuhkan perjuangan untuk mengatasi hal tersebut. Kepolisian memainkan peran penting dalam meminimalkan penyebaran hoaks dengan melakukan penindakan hukum bagi pelaku pembuat berita bohong termasuk pelaku yang menyebarkannya. Selain itu, masyarakat pengguna media sosial tidak kalah penting dalam mengendalikan penyebaran hoaks, selain juga peran media arus utama (main stream media) yang harus memiliki komitmen kuat untuk menjernihkan informamsi yang disebar ke masyarakat. Pendidikan bagi masyarakat memainkan peranan penting dalam memerangi hoaks. Penyebaran dan konsumsi buta terhadap berita berita bohong harus dilawan dengan budaya kritis serta membangun kebiasaan diri menganalisa berita dan mengecek ulang kebenaran dari suatu berita yang diterima dan bersikap selektif membaca berita di dunia maya.

Peran Mainstream Media

Apa itu mainstream media? Mainstream media adalah suatu terminologi (istilah) yang digunakan untuk mengacu pada berbagai media massa berita besar yang mempengaruhi sejumlah banyak orang dan merefleksikan serta membentuk arus pikiran (currents of thought). Istilah itu digunakan untuk membandingkan dengan media alternatif yang (mungkin) berisi konten dengan pendapat yang berbeda. (Wikipedia) Media alternatif sering didefinisikan sebagai anti-hegemoni, yaitu melawan berbagai nilai dan kepercayaan yang dominan dalam suatu budaya. Posisi media alternatif akhirnya cenderung terpolarisasi pada sudut pandang tertentu, dan juga berukuran lebih kecil dibandingkan media arus utama.

Media arus utama tidak bisa dipisahkan dari teknologi yang bertujuan menggapai/menjalin audience (pembaca, pemirsa, dan pendengar). Media arus utama menjadi sarana utama komunikasi untuk mencapai mayoritas masyarakat. Platform utama media masa berbentuk koran, majalah, radio, televisi, dan internet. Media masa tersebut menjadi sarana penyebaran/penyediaan informasi yang berkaitan dengan isu politik, sosial, hiburan, pendidikan, dsb.

Melalui media massa, terutama media arus utama, berita-berita memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap masyarakat dan berdampak besar terhadap pendapat publik. Dalam banyak hal, media massa bisa menjadi satu-satunya sumber yang dipercaya masyarakat. Sebagai contoh, ketika Neil Armstrong mendarat di bulan tahun 1969, media massa membuat masyarakat dapat menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Media massa memainkan peran penting dalam mendidik masyarakat melalui siaran-siaran pendidikan yang ditayangkan banyak telivisi dan atau radio, mulai dari yang sangat sederhana, misalnya bagaimana memasang dasi hingga membuat komputer.

Maraknya hoaks di tengah kehidupan pers nasional belakangan ini dinilai menjadi isu penting sehingga menjadi pembahasan dalam World Press Freedom Day (WPFD) 2017 atau Hari Kebebasan Pers Dunia yang digelar pada 2-4 Mei 2017 di Jakarta. Selain itu, Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) ke-69 di Ambon, Maluku, Februari lalu. menjadi momentum kebersamaan pers untuk melawan hoaks antara lain dengan pendekatan profesionalisme dan penajaman standar jurnalisme dengan menyajikan pemberitaan yang benar, sesuai fakta, dan berimbang.oleh media arus utama (mainstream media), sebagai penjernih informasi mengkonter hoaks. Media mainstream harus jelas dan tegas menjunjung profesionalisme pers. Pers harus independen, memihak kebenaran dan kepentingan rakyat, serta tidak takluk pada kepentingan pemodal

Hoaks akan selalu mewarnai pemberitaan yang dilakukan media massa. Apalagi bila di suatu negara sedang melakukan kegiatan politik atau demokrasi seperti yang baru saja terjadi di Pilgub DKI Jakarta. Namun, tanpa Pilkada pun hoaks tetap ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Kondisi ini juga terjadi di negara-negara di dunia.

Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, Muhadi Sugiono, mengatakan, meski jurnalisme mainstream masih ‘patuh’ kepada regulasi dunia pers, namun kekentalan keberpihakan tetap mudah terbaca, Pada akhirnya muncullah euforia terhadap jurnalisme warga yang tanpa batas. Apalagi kemudahan dalam mengakses teknologi semakin meningkat. Maka, setiap orang berhak menentukan sikap terhadap bacaannya.

Menurut pengamat komunikasi dari Universitas Diponegoro, Triyono Lukmantoro, media arus utama harus mampu menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan memihak kebenaran guna membendung hoaks yang masif diproduksi dan beredar luas di media sosial (medsos) dengan mengedukasi publik melalui berita yang akurat, berimbang dan memihak kebenaran.

Kuatnya dominasi medsos tak serta merta membuat publik meninggalkan media mainstream. Media arus utama bisa menjadi pembanding. Dewan Pers yang merilis daftar media mainstream yang tersertifikasi baru-baru ini menjadi bagian mengedukasi publik memilih informasi dari media yang kredibel.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Niken Widiastuti menegaskan, untuk menangkal hoaks yang beredar di kalangan masyarakat, diperlukan peranan pers untuk menyajikan informasi sesuai fakta yang sebenarnya. Pers harus lebih cermat dan berperan mengurangi berita bohong. Hoaks menimbulkan gejolak sosial dan bentrok horizontal. Pers, sebagai pilar keempat demokrasi, memiliki pengaruh yang sangat besar. Walaupun sudah muncul media sosial, namun kepercayaan dan pengaruh pers sebagai arus utama informasi masih sangat besar/ Karenanya dalam perkembangan seperti sekarang justru profesionalisme pers semakin dibutuhkan.

Kita mengapresiasi Dewan Pers yang akan menyusun strategi untuk memerangi media abal-abal dan berita hoaks seperti yang dilansir ANTARA News Rabu, 4 Januari 2017. Dewan Pers akan memberikan barcode kepada media-media yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers guna memudahkan masyarakat membedakan media mainstream dengan media abal-abal yang kerap menyebarkan hoax. Barcode ini sebagai tanda bahwa media tersebut trusted (terpercaya), terverifikasi di Dewan Pers. Ini juga bertujuan meminimalisir masyarakat dirugikan oleh pemberitaan hoaks.

Kerjasama Mengeliminir Hoaks

Seperti yang sudah saya kemukakan bahwa : hoax is everywhere around the world. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama antar negera untuk memerangi hoaks tersebut. Salah satu contohnya adalah kerjasama Uni Eropa dalam bidang pers di bawah payung World Press Freedom Day (WPFD) 2017. (Liputan6.com). Dalam diskusi bersama UNESCO dan Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia Rudiantara pada Selasa (2/5/2017) pagi di Jakarta Convention Center dibahas tentang perlunya lingkungan yang kondusif bagi jurnalis agar bisa melaporkan secara bebas dan juga tanggungjawab jurnalis terhadap proses pelaporan sesuai profesinya.

Dalam catatan Dewan Pers, sampai saat ini ada 47 ribu media di Indonesia, terdiri dari 1500 media televisi, 43.300 media online dan sisanya media cetak (VIVA.co.id). Karena banyaknya media di Indonesia, Untuk itu, banyak jurnalis berpartisipasi aktif dalam setiap sesi diskusi di WPFD 2017. Banyaknya jurnalis media di Indonesia menjadi modal untuk mengeliminir hoaks dengna cara menjernihkan informasi yang berseliweran di dunia maya.

Tersebarnya hoaks tidak lepas dari munculnya media sosial semacam Facebook, google, dsb. Facebook dan sejenisnya sering dimanfaatkan oknum untuk menyebar hoaks guna kepentingan dan keuntungan politik dan bisnis. Seiring adanya kritik dari masyarakat berkaitan dengan hoaks, Google mengumumkan produk baru bertajuk "Fact Check" yang mulai tersedia untuk layanan Search dan News. Cara kerjanya memanfaatkan pihak ketiga yang kompeten dan terpercaya. Google sama sekali tak melakukan verifikasi berita sendirian. Google mematrikan label "Fact Check" pada berita-berita yang sudah dicek kebenarannya oleh pihak ketiga, yakni media massa kawakan dan organisasi pengecekan fakta.Tak semua berita dicek kebenarannya. Berita-berita yang viral akan lebih diprioritaskan karena dampaknya lebih besar bagi masyarakat (KOMPAS.com).

Seiring berseliwerannya hoaks, khususnya didunia maya, masyarakat hendaknya semakin kritis dalam menerima berita. Temukan cara untuk memverifikasi berita dengan menggunakan perangkat yang sudah ada termasuk ‘Fack Check tersebut dan hati nurani yang jernih.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

yebambangtri: widyaiswara ahli madya puslitbangdiklat rri