Artikel Diklat

BROADCAST WORLD: CONTENT IS THE KING!

Kamis, 15/06/2017 14:12 Asep Sugiantoro

Y. Bambang Triyono, M.Pd.

[Artikel ini pernah dimuat di Majalah Broadcastmagz Edisi Bulan Mei 2017]

 

Ada pernyataan umum yang seakan menjadi sebuah motto para broadcasters yakni ‘Content is the King’-Konten Siaran Itulah Rajanya-. Secara konprehensif, pernyataan tersebut mudah dipahami, sekalipun oleh para awam siaran: kalau (isi program) siaran itu baik, menarik, dan bermanfaat bagi audience maka stasiun penyiarannya akan menjadi primodona dan merajai dunia penyiaran. Namun semudah pernyataan itukah membuat dan menciptakan konten siaran tanpa sumberdaya yang memadai, jawabannya pasti No Way!

Kreatifitas Konten

Dalam menciptakan konten siaran yang baik, menarik, bermanfaat dan dibutuhkan audience, diperlukan pertimbangan serius yan didukung banyak pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku (baca:kompetensi) para broadcaters-nya. Hal yang perlu dipertimbangkan adalah bahwa audience lebih menyukai hiburan yang membuatnya tersenyum/tertawa, dan berteriak. Dalam mengonsumsi informasi, audience senang dengan isu-isu yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Yang tidak kalah penting adalah bidikan terhadap generasi muda agar tertarik mendengarkan atau menonton program yang menarik bagi mereka. Oleh sebab itu, diperlukan tim kreatif yang memiliki kegemaran yang sama dengan segmen yang dibidik. Menyusun konten itu ibarat kampanye pilkada bagaimana caranya merekrut generasi muda/pemilih pemula untuk tertarik berpartisipasi dalam pilkada dan dan memberikan suaranya (vote), tidak golput ! Anak anak muda itu biasanya sangat kritis. Seiring dengan berkembangnya teknologi informasi komunikasi, para generasi muda mendengarkan/menonton siaran dengan menggunakan multi-channels/screens setiap waktu dimanapun mereka berada. Presiden Shandong TV China, Lv Peng mengatakan bahwa anak anak muda di negaranya lebih menyukai acara yang berkaitan dengan animasi, komik, dan novel, dan mereka mengaksesnya dengan peralatan teknologi informasi.

Indonesia adalah negara yang kaya budaya dan tradisi dengan berbagai bahasa suku, ras dan agama. Ini semua dapat menjadi bahan siaran yang sangat potensial untuk dikemas menjadi acara acara yang menarik, khususnya berkaitan dengan human interest. Berdasarkan pengamatan saya, siaran televisi dan radio di Indonesia masih miskin konten dibanding siaran-siaran radio televisi di Korea Selatan. Mindset broadcasters Indonesia nampaknya harus berubah dari tidak semata-mata membuat program yang dapat menghasilkan uang (bisnis) semata-mata namun juga menyusun program (acara) dalam rangka melestarikan budaya luhur bangsa dengan semangat nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa. Niscaya, acara semacam itu bila dikemas dengan kreatifitas tinggi akan menarik banyak pendengar/permirsa dan tujuan komersiilnya akan tercapai. Bukankah acara itu dikemas untuk dapat dilihat/didengar pemirsa/pendengar sehingga memperoleh rating tinggi dengan demikian menarik pemasang iklan?

Tanggungjawab media secara umum termasuk media penyiaran/elektronik adalah mengubah mindset anak anak yang nampak dan faktanya sudah melupakan budayanya sendiri dan cenderung menyukai budaya negara lain. (lihat, betapa banyak anak anak Indinesia, termasuk emak emaknya juga melihat film Korea>). Globalisai memiliki kekuatan yang sangat dasyat, dan tanggungjawab media adalah bagaimana melokalisai budaya sendiri melalui konten konten siaran yang memiliki nilai (value) tinggi untuk melawan budaya negara lain yang tidak sesuai kepribadian Indonesia.

Ada berbagai pendekatan dalam menyusun sebuah program siaran. Salah satunya adalah menggunakan format program yang beragam. Teknik story telling, divariasi dengan format baru lain untuk program dokumentari bisa menjadi panduan yang baik. Seorang produser Korea, Kim Sunah menyatakan, memiliki suasa hati (mood) dengan penampilan menarik (perfomative), penuh refleksi (reflective), penuh observasi (observational) dan puitis dapat menciptakan relevansi dalam dunia media yang berubah secara cepat saat ini.

Dalam jurnalisme, ada banyak berita (news stories) yang dapat disajikan khususnya kepada audience muda. Narasi berita tersebut harus dianalisa secara cermat dengan keahlian sehingga hasilnya harus mudah di mengerti (make sense) bagi audience muda. Untuk menjadikan cerita yang tidak menarik dan kering menjadi menarik dan menyenangkan, orang-orang yang bekerja di newsroom harus memiliki data yang akurat didukung dengan infografis yang memadai. Di dunia televisi, untuk membuat program menarik, alternatif lain adalah dengan menggunakan drone UAV (unmanned aerial vehicle) yang saat ini telah mengubah lingkungan suting (shooting environment) dalam produksi drama dan berita untuk memperkaya konten dan memuaskan audience.

Mengutip pernyataan Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Rosarita Niken Widiastuti, yang juga pernah menjabat Direktur Utama RRI dan President AIBD General Conference, bagi para broadcasters, kunci utama memproduksi program yang memiliki nilai (valuable programs) adalah bagaimana memproduksi konten-konten unik yang memiliki nilai jurnalisme berkwalitas tinggi. Mereka harus memperkuat nilai proposisi/rancangan usulan ini. “Jika konten itu bertujuan meyakinkan masa depan yang kuat, program siaran harus terbuka/transparan terhadap alternatif dunia yang berkembang sangat luas bagi pendidikan dan hiburan yang berkwalitas. Setelah itu, pemenangnya adalah mereka yang mampu menciptakan konten terbaik’, ujar Rosarita Niken Widiastuti.

Manajemen Produksi Program Siaran

Wahai puteraku ..

Engkau dapat merubah keyakinan orang .. dan menguasai hati mereka tanpa engkau sadari! Bukan dengan sihir, bukan pula dengan jampi .. namun, dengan senyumanmu .. dan kosa katamu yang lembut .. dengan keduanya, engkau dapat menyihir!! Oleh karena itu, tersenyumlah .. maha suci Allah yang telah menjadikan senyuman sebagai ibadah dalam agama kita, dan kita mendapatkan pahala darinya!!’ ( Sumber dari Nasihat Seorang Arab Kepada Putranya - Ukhty Nayifah Uwaimir)

Potonngan nasehat tersebut saya kutip dari sebuah Modul yang ditulis Nazwin Achmad, Kepala RRI Palangkaraya yang menyatakan bahwa manajemen produksi siaran radio merupakan suatu strategi dalam menghasilkan suatu produk/kemasan radio dan prosesnya dilakukan dengan baik. Namun sebelum kita masuk dalam proses itu, kita juga harus mengetahui dimana produk siaran tersebut ditempatkan, siapa segmentnya/pendengarnya, penempatan waktu untuk penyajiannya, digarap dalam format apa. Pertanyaan tersebut harus mampu dijawab sebelum kita memproduksi. Oleh karena itu perlu kita mengetahui hal hal yang berkaitan dengan programatis baik dalam pendekatan narrowcasting maupun broadcasting.

Menurut Nazwin, potongan cerita nasehat diatas dapat menjadi ide bagi penulis untuk menulis naskah sandiwara radio, dapat juga di produksi menjadi filler inspirasi atau dalam format siaran apa saja dengan sentuhan imajinasi “theatre of mind “ yang membawa pendengarnya terbawa, termotivasi dan terpengaruh. Peran Atmosfir dengan kekuatan sound kata dalam ilustrasi yang menyatu di kemas dalam kekuatan produksi siaran radio... yakin bahwa kita dapat melakukan itu.

Dalam penyajian sebuah konten program, tidak kalah penting broadcaters harus mengenal format-format dalam siaran. Dalam broadcast dikenal pendekatan narrowcasting dan broadcasting. Apa itu format, pendekatan narrowcasting dan broadcasting? Format programa siaran adalah saluran penyelenggaraan siaran dari suatu stasiun sesuai dengan karakteristik dan segmen pendengar yang dituju.

Pendekatan Narrowcasting adalah pilihan strategi programming dari suatu programa (stasiun) penyiaran, yang diarahkan/ditujukan pada segmen pendengar tertentu (terbatas/homogen), yang isi siarannya mempunyai ciri khas sesuai daerah tempat stasiun penyiaran itu berada. Dalam pendekatan Narrowcasting, masing-masing programa siaran memberlakukan format, yaitu :

  1. Format Berita (News)

Adalah format yang ditetapkan secara khusus pada suatu programa/stasiun, yang siarannya sebagian besar berisi berita dan informasi (all news), atau perbincangan mengenai berbagai peristiwa aktual/current affairs (all talk), atau gabungan dari keduanya (news and talk).

b. Format Musik (Music)

Adalah format yang unsur utamanya berupa musik, dan penamaannya disesuaikan dengan jenis musik yang mendominasi siaran stasiun bersangkutan, dengan berorientasi pada minat dan kebutuhan pendengarnya (audience). Format Stasiun penyiaran yang unsur utamanya berupa musik.

c. Format Khusus

Adalah Format yang keseluruhan programnya dirancang khusus untuk menyuguhkan materi siaran khusus Budaya, Pendidikan, Olahraga, Agama atau masalah Kewanitaan/gender.

Pendekatan Broadcasting adalah perencanaan program sebuah stasiun siaran yang menggunakan pola pendekatan broadcasting tidak menggunakan format homogen (untuk segmen pendengar tertentu), karena pendekatan broadcasting dirancang untuk melayani segmen pendengar yang beragam (heterogen). Seluruh isi siaran dalam mata acara dan jenis musik pada sebuah stasiun radio broadcasting, merupakan perpaduan dari berbagai klasifikasi acara.

Karya Artistik dan Jurnalistik

Di dunia broadcasting secara kategorial dikenal istilah karya artistik dan karya jurnalistik. Berdasarkan prinsip prinsip penyiaran (publik), karya tersebut dapat dikembangkan sesuai kreatifitas yang berlandaskan kaidah kedua karya tersebut. Karya artistik adalah karya yang bersumber dari ide/gagasan manusia sehi­ngga sifatnya bisa rekaan (fiksi), nonfiksi, atau kombinasi antara keduanya. Karya jur­nalistik adalah karya yang menyajikan peristiwa, pendapat, realita yang mengandung nilai berita dan tengah aktual di masyarakat. Program jurnalistik bersifat faktual atau non fiksi dan tunduk sepe­nuhnya pada Kode Etik Jurnalistik (Wahyudi, 1994). Pada dunia broadcast umumnya, karya artistik menjadi domain (wilayah) kerja bidang siaran, sedangkan karya jurnalistik menjadi domain bidang pemberitaan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

YeBambangTri: (yebambang@gmail.com)

Dosen mata kuliah Broadcast di Universitas Dian Nuswantoro Semarang (2003-2006)