Artikel Diklat

BROADCASTERS PAHAM TUGAS, FUNGSI, DAN ISTILAH PERS

Senin, 24/04/2017 09:59 Asep Sugiantoro

Y. Bambang Triyono, M.Pd.

[Artikel ini pernah dimuat di Majalah Broadcastmagz Edisi Bulan Maret 2017]

Anda tertarik bekerja di bidang siaran (broadcast), atau hanya sekedar pemerhati? Apapun ketertarikan anda, sudah sewajarnya anda paham segala sesuatu/seluk beluk yang berkaitan dengan siaran. Broadcast adalah ilmu yang harus dipelajari secara seksama, bukan sekedar bisa buka mulut, sehingga kalau anda berkecimpung didalamnya anda mampu menyajikan konten siaran yang bagus, bertanggungjawab, dan profesional. Kalau minat anda hanya sebagai pemerhati, atau siapapun yang mau tidak mau harus mendengar dan melihat berita, anda juga perlu mengetahui ilmu broadcast, sehingga anda tidak menjadi korban dari broadcast itu sendiri, yang sering terprovokasi dengan pemberitaan yang di broadcast berbagai media, termasuk media sosial. Berhati-hatilah dengan media sosial, karena konten media sosial itu kebanyakan hoax dan tidak mengenal kode etik. Sangat disesalkan bahkan media resmi seperti TV, koran, dan radio justru sering terlibat dalam media sosial tersebut tanpa dipertimbangkan baik buruknya. Seharusnya media resmi justru harus meng-counter konten media sosial yang tidak mengenal kode etik itu, supaya masyarakat tidak terprovokasi.

 

Mari kita kenal dan pahami ilmu broadcast itu. Dalam bidang penyiaran, yakni radio dan televisi, dikenal istilah presenter atau yang bila diartikan secara harafiah disebut sebagai penyaji/penyampai/pembawa/ yang mempersembahkan. Di kamus umum bahasa indonesia, definisi presenter adalah orang yang membawakan suatu kegiatan yang dipertunjukkan oleh suatu program di televisi atau radio.

Banyak istilah siaran dalam Bahasa Inggris yang secara universal dikenal di seluruh dunia. Oleh sebab itu, tidak ada jeleknya kita kenali itu. Memang broadcast itu seluruh dunia sama dan universal. Berikut terminologi/istilah sebagian profesi dalam penyiaran yang di kenal di dunia (penyiaran).

  1. Continuity Presenter

Presenter jenis ini adalah mereka yang bertugas mengantarkan acara-acara radio dan atau televisi kepada pendengar/pemirsa (audience). Mereka berfungsi sebagai jeda atau perangkat dari satu acara ke acara lainnya. Penampilan mereka sangat santai. Biasanya mereka akan sedikit mengulas materi acara yang segera hadir, dengan tujuan mengajak dan menambat pemirsa agar tidak berganti channel ke stasiun televisi lainnya. Selain itu, presenter ini sering memberikan kiat khusus berkaitan dengan aktivitas penonton sehari-hari. Keberadaan continuity presenter ini cukup membantu memasarkan sebuah acara. Sebab dengan sapaan dan ajakan mereka untuk menonton sebuah acara, mereka mencoba mengikat pemirsa. Mereka harus betul-betul paham dan cermat terhadap sebuah acara yang akan diulasnya.

  1. Host /baca: h??st/

Host secara umum diartikan sebagai orang yang memegang suatu acara tertentu. Keberadaan host biasanya identik dengan acara yang dibawakannya. Dengan demikian, selain jenis acara, figur host yang bersangkutan akan memegang peranan penting. Kehadiran seorang host yang berkarakater akan menjadi daya tarik suatu acara. Pertimbangan dalam pemilihan host tidak hanya didasarkan karena kecantikan dan popularitasnya, tetapi integritas dan karakternya. Contohnya duet Ruben Onsu & Sarah Sechan di acara Rangking 1; Tukul di acara Bukan Empat Mata; Najwa Sihab di acara Mata Najwa, dll.

  1. Anchor/News Caster /baca: æ?k?/

Istilah anchor khusus diberikan pada seseorang yang membawakan atau menyajikan berita. Pada radio dan televisi, faktor penyaji berita memainkan peranan penting dalam menyampaikan naskah berita pada khalayak. Isi berita harus jelas dan komunikatif. Contoh: Panda Nababan di Seputar Indonesia; Jeremy Teti di Liputan 6; Boy Noya di Metro Sport, dll.

  1. Reporter /baca: r?’p?:t?(r)/

Reporter adalah seseorang yang menyampaikan berita dari lokasi terjadinya sebuah perisitiwa. Reportase yang disampaikan bisa rekaman bisa juga disiarkan secara langsung. Karena itulah reporter dituntut mempunyai kemampuan jurnalisme yang mumpuni.

5. Gatekeeper /baca: geit’ki:p?/

Gatekeeper adalah penyeleksi informasi. Konkritnya seperti ini, komunikasi massa di jalankan dalam suatu organisasi media massa, maka orang-orang yang berada dalam oraganisasi tersebut yang akan meyeleksi setiap informasi yang akan disiarkan maupun yang tidak disiarkan. Mereka juga memiliki kewenangan untuk memperluas dan membatasi informasi yang akan disiarkan.

6. Program Director (PD) (baca: ‘pr??græm ‘d?rekt?(r) atau d??rekt?(r)

Progran Director atau Pengarah acara adalah seseorang yang ditunjuk untuk bertangggung jawab secara teknis pelaksanaan produksi satu mata acara siaran. Jabatan sebagai program director ini dibawah seorang executive produser dan produser.

7. Executive Producer /baca: ‘eks?kjut?f ‘pr?d?u:s?(r)/

Excecutive Producer adalah seseorang yag mempunyai wawasan dan mengerti tentang program televise secara keseluruhan. Seorang executive producer harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan ide dalam pembuatan program acara radio/televisi. Selain itu, dia harus memiliki kemampuan berkoordinasi, berkontribusi dan mendistribusikan produksi secara sistematis, efektif, dan efisien.

 

Istilah dalam Broadcast dan Pers pada Umumnya

Broadcasters bekerja dalam media penyiaran yang termasuk dalam kategori pers. Oleh sebab itu, seorang broadcaster harus memahami istilah-istilah dalam pers, diantaranya sebagai berikut.

  1. Off the Record /baca: ?f ð? ‘ri:k?:d/

Adalah bahan atau keterangan yang akan disampaikan oleh narasumber kepada wartawan dengan kesepakatan tidak boleh disiarkan (off the record). Apabila narasumber sudah mengatakan bahan yang diberikan atau dikatakannya adalah off the record, wartawan tidak boleh menyiarkannya. Kalau wartawan tidak bersedia terikat dengan hal itu, sejak awal ia boleh membatalkan pertemuan dengan narasumber yang ingin menyatakan keterangan off the record.

  1. Delik Pers

Adalah bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh wartawan atau pers. Delik Pers termasuk dalam kejahatan melalui alat cetak, tetapi tidak semua kejahatan melalui alat cetak merupakan delik pers. Delik Pers merupakan alat cetak yang dilakukan oleh "lembaga pers". Dengan demikian harus diketahui lebih dahulu siapa "pers" itu. Delik yang dilakukan oleh Pers ini lah disebut delik pers. Dalam hal ini mengenai pengertiannya dimana media pers itu meliputi tidak saja media cetak, tetapi media non cetak, seperti TV dan sebagainya. Di sisi lain berpendapat bahwa delik pers adalah kriminalisasi terhadap pers atau identik dengan upaya pengekangan kebebasan pers.

  1. Yellow Paper /baca: jel?? ‘pe?p?(r)/

Adalah surat kabar yang mementingkan sensasionalisme dengan eksploitasi masalah seks dan kriminalitas. Ia menganut paham jurnalisme got (gutter journalism) yang menonjolkan pemberitaan tentang dunia hitam atau dunia kotor, yakni seks dan kejahatan (sex and crime journalism).

  1. Trial by Press (baca: tra??l ba? pres/
  2. Adalah penghakiman sendiri yang dilakukan pers tanpa adanya keputusan final dari hakim atau tidak menghargai asas praduga tak bersalah. Peradilan dengan penggunaan media yang bersifat publikasi massa adalah sebuah istilah bentuk peradilan yang dilakukan dengan melalui penulisan atau pembicaraan dari satu sisi pihak secara bias. Biasanya dilakukan dengan bantuan publikasi secara luas dan secara sadar dengan tidak membeberkan keseluruhan fakta yang ada.

Reporter/jurnalis/wartawan, tak terkecuali para broadcasters tidak boleh melakukan trial by press karena tindakan itu bersifat menghakimi sendiri atau menarik kesimpulan tanpa keputusan yang pasti dari hakim. Tindakan itu tidak membeberkan fakta secara keseluruhan sehingga menjadikan penulisan atau pembicaraan tersebut tidak lagi berimbang dan berakibat menjadikan penulisan atau pembicaraan tersebut bagaikan sebuah putusan pengadilan bagi para pihak yang terkait tanpa adanya hak melakukan pembelaan. Wartawan bisa dituntut karena tindakan itu dengan tuduhan seperti pencemaran nama baik.

Namun, kenyataannya banyak hakim memakai KUHP karena ancaman hukum yang paling sering dihadapi media atau wartawan adalah menyangkut pasal-pasal penghinaan atau pencemaran nama baik, dan di dalam KUHP terdapat 16 pasal yang mengatur soal penghinaan. Dalam KUHP tidak didefinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan penghinaan. Akibatnya perkara hukum yang terjadi seringkali merupakan penafsiran yang subyektif. Seseorang dengan mudah bisa menuduh pers telah menghina atau mencemarkan nama baiknya, jika ia tidak suka dengan cara pers memberitakan dirinya. Hal ini menyebabkan pasal-pasal penghinaan (dan penghasutan) sering disebut sebagai “ranjau” bagi pers, karena mudah sekali dikenakan untuk menuntut pers atau wartawan. Hal itu disebabkan karena KUHP begitu lentur untuk ditafsirkan dan diinterpretasikan. Terlebih-lebih jika pelanggaran itu terkait dengan presiden, wakil presiden, dan instansi negara. Sehingga para hakim lebih cenderung menggunakan KUHP daripada UUD Pers. Padahal sebenarnya UUD Pers lah yang seharusnya digunakan, karena ia bersifat lebih khusus.

 

Masih banyak istilah dalam dunia broadcast. Sebagian diantaranya, khususnya untuk media televisi sebagai berikut:

  1. Acting : Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan.
  2. Art Departement :Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.
  3. Art Director: Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalu mengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.
  4. Camera Departement :Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
  5. Cameraman: First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama shooting yang sesungguhnya.
  6. Casting Director: Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.
  7. Character Man or Woman : Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.
  8. Cinematographer (Sinematografer): Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
  9. Documentary: Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.
  10. Dolly: Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.
  11. Dollying: Pergerakan kamera selama pengambilan gambar dengan menggunakan kendaraan/alat beroda yang mengakomodasikan kamera dan operator kamera. Kadang disebut juga tracking atau trucking.  

Seorang broadcaster harus memahami definisi, tugas masing-masing profesi dan istilah dalam penyiaran. Dalam penyiaran ada istilah yang berbeda-beda, walupun kadang-kadang tugas dan fungsinya sama. Mislanya diantara istilah itu adalah continuity presenter, reporter, newscaster, newsreader. Karena bergerak di bidang media yang masuk dalam ranah pers, seorang broadcaster juga harus paham istilah-istilah pers dan berusahan melaksanakan istilah tersebut sesuai dengan kode etik. Istilah yang sangat populer dalam pers tersebut diantaranya: off the record, trial by the press, delik pers, dll.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

y. bambang triyono koordinator, editor, reporter siaran berbahasa inggris rri semarang 1986-2001